Penerimaan Pajak di Kota Cirebon Meningkat
Cirebon - Tren penerimaan pajak di Kota Cirebon cenderung terus mengalami peningkatan, Rabu (21/9/2016).

Terutama di sektor Pajak Hotel, Restoran dan Hiburan. Penerimaan pajak di ketiga sektor tersebut sudah hampir mencapai target.

Sekretaris DPPKAD Kota Cirebon, Iing Daiman mengatakan, penarikan pajak hotel sudah mencapai 86 persen dari yang ditargetkan Rp 11,76 miliar. Sementara, menurutnya, penarikan pajak restoran sudah mencapai Rp 20,56 miliar dari yang ditargetkan sebesar Rp 23,23 miliar.

“Penarikan pajak hiburan termasuk di dalamnya bioskop itu sudah mencapai 99,4 persen. Memang pajak bioskop ini peningkatannya lumayan signifikan. Apalagi tren film nasional yang belakangan ini beberapa di antaranya sudah tembus box office,” katanya. (C-18)

Info: kabar-cirebon.com
KENA TIPU DEH: Enah menunjukkan kacang dan ampas kemiri yang dibelinya dengan harga murah. Foto: Cecep/ Radar Cirebon
Cirebon - Hati-hati bila ditawari  barang dengan harga murah. Kalau tidak akan seperti yang dialami Enah (52), warga Desa Lemahtamba, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon. Sebagai pedagang dirinya merasa tertipu dengan penjual kacang yang berjualan di Pasar Jungjang, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Rabu (21/9).

Selama jadi pedagang, Enah mengaku tidak pernah tertipu. Pasalnya selama ini barang yang dibelinya dengan harga normal. Namun pagi tadi ada seorang pedagang bakul yang menawarkan kacang tanah dengan menjual per-bal, dan tidak boleh diecer.

Melihat kondisi kacang yang terlihat bagus dan super dan dengan  harga yang  lebih murah dari lainnya, tertariklah Enah untuk membelinya.

“Biasanya saya beli di dalam per-bal isi 5 kg  Rp125.000. Namun ada orang yang tidak dikenal yang menawarkan harga kacang per-balnya Rp100.000 ya saya tertarik, apalagi melihat kacang yang terlihat bagus dan super tak berdaya saya untuk membelinya,” kata Enah.

Nahas bagi enah setelah dirinya senang dari pasar mendapatkan barang bagus dan murah, sesampainya di rumah pas di cek kacang tersebut hanya sebagian saja namun di tengahnya berisi ampasnya kemiri yang tidak bisa dijual. “Sampai di rumah pas di cek kacangnya cuma berisi 1 kg ditata rapi dan di tengahnya ampas kemiri sampai 4 kg,” kesal Enah.

Info: radarcirebon.com
KETERANGAN PERS: Ujang Bustomi dihadapan wartawan bersumpah dengan Alquran bahwa dirinya tidak dukungan dari bupati Cirebon, saat gelar jumpa pers. Foto: Deni Hamdani/ Radar Cirebon
Cirebon - Jelang Konferensi Cabang GP Ansor Kabupaten Cirebon yang akan digelar Sabtu (24/9) mendatang, suhu politik di internal GP Ansor mulai menghangat. Sejumlah kandidat bakal calon organisasi di bawah naungan NU itu mulai bermunculan dan bergeriliya mencari dukungan. Bukan itu saja, sejumlah pejabat partai politik dan anggota dewan pun sudah melakukan kampanye hitam jelang konfercab tersebut.

Salah satu kandidat ketua GP Ansor, Ustad Ujang Bustomi kepada Radar Cirebon membenarkan bahwa ada beberapa anggota DPRD Kabupaten Cirebon dan pengurus partai politik tertentu turun langsung untuk mengintervensi serta menggiring peserta konfercab untuk memenangkan salah satu kandidat calon ketua GP Anshor Kabupaten Cirebon.

“Ini caranya sudah mulai tidak sehat lagi. Karena anggota dewan juga pengurus parpol tersebut sudah mulai mengiming-imingi bahkan ada juga yang melakukan intervensi terlalu berlebihan agar PAC dan Ranting memilih salah satu calon tersebut,” ungkap Ujang.

Bahkan menurut Ujang, kampanye hitam sudah mulai merebak dan berusaha menjatuhkan dirinya dari pencalonan. “Mereka juga mencari kelemahan saya. Bilang saya ini bukan NU, ada juga yang mencoba melakukan kampanye hitam menjelek-jelekan kandidat. Ironisnya, ada juga yang mengatakan saya maju karena didukung bupati. Saya sudah tegaskan di hadapan PAC dan bersumpah dengan Alquran kalau di belakang saya ini nggak ada kepentingan dari siapapun, termasuk Bupati Sunjaya,” tegasnya.

Sementara itu Ketua PAC GP Anshor Kedawung Suminta kepada Radar Cirebon mengatakan, pihaknya pernah didatangi oleh pengurus salah satu parpol untuk diminta mendukung salah satu Calon. “Iya saya didatangi oleh orang partai, dan meminta saya mendukung calon itu. Saya diiming-imingi nanti akan dapat bantuan dari Kemenpora, dan bantuan program lainnya, asal saya pilih calon itu. Saya tolak tawaran itu, karena bagi saya itu sudah tidak sehat lagi persaingannya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua PAC Ansor Suranenggala Saeful Hadi. Dirinya mengaku tidak hanya didatangi oleh orang parpol, tapi juga sejumlah preman. “Banyak yang datang ke saya dan menawari uang. Bukan itu saja, ada preman utusan orang penting yang menekan saya agar memilih salah satu kandidat,” akunya.

Begitupun yang dialami Ketua PAC Ansor Plumbon Wawan. Ada seorang anggota DPRD yang mendatanginya dan memaksa memilih calon tertentu. “Orang parpol dan anggota DPRD itu datang ke saya lalu memaksa dan meneror agar memilih calon itu,” ucapnya. (den)

Info: radarcirebon.com
KECEWA: Puluhan pedagang kaki lima (PKL) kawasan Sport Center  mendatangi gedung DPRD Indramayu. Foto: Utoyo Prie Achdi/ Radar Indramayu
Indramayu - Puluhan perwakilan pedagang kaki lima (PKL) kawasan Sport Center (SC) Indramayu kembali mendatangi DPRD Indramayu. Namun kedatangan kali ini adalah untuk mengikuti rapat gabungan dengan Komisi B, Komisi D, serta kepala OPD terkait. Sayang dari ketiga OPD terkait yaitu Dinas Cipta Karya, Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan, hanya Kepala Dinas Cipta Karya, H Didi Supriadi ST yang hadir. Untuk dua dinas lainnya hanya mengirimkan utusan. Sementara dari DPRD Indramayu hadir Wakil Ketua DPRD, H Abas Assafah SAg MSi, serta pimpinan dan anggota Komisi B dan Komisi D.

Dalam pertemuan tersebut terungkap PKL masih keberatan dengan pembangunan sirkuit di kawasan SC yang saat ini berjalan. Pasalnya, pembangunan tersebut dinilai tidak melalui sosialisasi terlebih dahulu dan merugikan para pedagang kaki lima. Mereka pun mengakui pembangunan sirkuit di kawasan SC, membuat omzet para pedagang merosot drastis.

“Pedagang banyak yang mengeluh. Ada yang semalam biasanya mendapatkan penghasilan Rp200 ribu, sekarang hanya Rp13 ribu. Untuk itulah kami minta pembangunan sirkuit di kawasan SC dikaji ulang,” kata Sutiyono, perwakilan pedagang.

Pedagang lainnya, Yayan, juga mengaku kecewa karena pembangunan sirkuit tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu. Yang lebih lucu lagi, anggota DPRD Indramayu juga tidak tahu tentang rencana pembangunan tersebut. Padahal SC selama ini sudah identik dengan kawasan olahraga plus kuliner. “Saya dengar memang akan dibangun sirkuit. Menurut saya tidak pantas dan sangat disayangkan. Akan lebih baik kalau cari lokasi lain yang lebih strategis,” ujar Yayan.

Sementara Kepala Dinas Cipta Karya, H Didi Supriadi ST menjelaskan, sesuai dengan fungsinya kawasan SC memang diperuntukan bagi kegiatan olahraga. Kebetulan pada tahun 2016 ini mendapat anggaran bantuan provinsi, dan digunakan untuk penataan kawasan SC. Didi juga mengatakan wajar kalau DPRD tidak tahu soal anggaran tersebut, karena memang baru turun pada Februari 2016 ketika APBD 2016 sudah diketuk.

“Itu juga bukan pembangunan sirkuit, tapi  hanya untuk roadrace, drag, slalom buat sepeda motor,” kilah Didi.

Sementara konsultan pelaksana pembangunan kawasan CS, Hamdani mengungkapkan, sesuai rencana awal memang itu merupakan program revitalisasi kawasan SC. Namun dalam nomenklaturnya untuk olahraga otomotif.

Perwakilan dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan, Solihin mengatakan, pihaknya memang sempat diundang pihak Dinas Cipta Karya terkait rencana pembangunan kawasan SC. Pada saat itu ia minta agar pedagang kaki lima direlokasi terlebih dahulu, sebelum pembangunan dilaksanakan. “Saya sudah memohon agar PKL direlokasi terlebih dahulu, baru dibangun. Tapi yang terjadi saat ini pembangunan sudah jalan dan PKL tidak jelas mau dikemanakan,” ujarnya.

Anggota Komisi D, H Abdul Rohman SE, juga mengaku terkajut dan baru tahu kalau kawasan SC sedang dibangun. Ia juga menyayangkan tidak adanya sosialsiasi maupun kajian, tentang dampak pembangunan sirkuit tersebut. “Katanya revitalisasi kawasan SC, tapi kenyataannya pembangunan sirkuit. Kalau sirkuit tentunya harus ada Amdal terlebih dahulu,” ujar anggota Fraksi PDIP ini.

Sementara H Abas Assafah mengatakan, pihaknya akan mengakomodir keinginan para pedagang kaki lima. Menurutnya, dalam waktu dekat seluruh kepala dinas terkait akan diundang, dan tidak boleh diwakilkan. “Persoaln ini harus cepat selesai, karena menyangkut urusan perut,” tandasnya.(oet)

Info: radarcirebon.com

Cirebon - Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat sudah berlangsung. Pagelaran yang dua cabang olahraganya dihelat di Kota Cirebon menyedot atensi warga.

Gelanggang Olahraga (GOR) Bima yang jadi venue bulutangkis disesaki penonton. Warga Cirebin maupun luar daerah memadati kompleks olahraga favorit di Cirebon itu. Antusiasme dalam menyambut PON di Kota Cirebon benar-benar terasa.

“Ini jarang sekali Kota Cirebon menggelar event sekelas PON, harus disambut dengan sebaik-baiknya, pertandingannya juga tadi seru banget,” ungkap Mahesa, mahasiswa Untag Cirebon saat diwawancarai CT, Senin (19/09).

Yang menarik, maskot PON yang dipasang di sisi GOR jadi ajang rebutan selfie warga. Maskot yang mengambil hewan khas Jawa Barat, lutung tersebut tampak dikerumuni warga sekitar untuk berebut selfie.

“Lucu maskotnya, bareng temen-temen aja di sini sekalian kumpul, gak afdol kalo gak selfie di maskot ini,” ujar Ita, warga Kuningan seusai berselfie ria dengan teman-temannya.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunjuk hewan lutung sebagai maskot PON XIX. Ada dua maskot dalam perhelatan kali ini, untuk maskot lelaki dinamakan Lili sedangkan maskot perempuan dinamakan Lala. (Wilda)

Info: cirebontrust.com

Cirebon - Potret kemiskikan masyarakat pinggiran dan kurang pedulinya pemerintah, seolah tak pernah bisa diselesaikan. Di kabupaten cirebon, seorang nenek renta yang mengalami kebutaan, harus rela sejak muda hingga masa tuanya hidup sebatangkara dan diisi dengan rasa takut serta khawatir rumahnya runtuh.

Bahkan, untuk menjalani kehidupan sehari-hari, nenek renta yang memiliki nama, Ny Roudah harus mengandalkan pemberian tetangga maupun kerabatnya yang merasa iba.

Di rumah berukuran tiga kali tiga meter ini, nenek Roudah warga Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon tinggal seorang diri. Nenek berusia tujuh puluh tahun ini, masa tuanya hidup sebatangkara di balik rumah yang tak layak.

Rumah yang terletak di pinggiran jalan tol kanci-pejagan ini, menjadi satu-satunya hunian bagi nenek yang mengalami kebutaan untuk menjalani kehidupan. Setiap kali angin kencang dan hujan deras melanda, nenek Roudah terpaksa tidur dalam keadaan basah kuyup.

Kondisi seperti ini, sudah dijalani nenek yang tak memiliki anak dan suami tersebut selama lebih dari sebelas tahun.

“Saya tinggal di sini sendirian, kalai hujan rumahnya pada bocor semua. Di kasur basah semua, makan minumnya dari ibu masroh tetangga saya, pengajian sering ikut, belum pernah dapet bantuan dari pemerintah,” katanya dengan suara serak.

Menurutnya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dirinya bekerja sebagai tukang pijat panggilan dengan upah Rp 15 ribu rupiah, itupun sangat jarang. Para tetangga yang tak kuasa melihat kehidupan nenek Roudah, berusaha membantu dengan bergantian mencukupi makanan tatkala nenek Roudah lapar.

“Beliau lebih dari sepuluh tahun sendirian, makan minum biasanya saya anterin. Saya yang ngurus karena gak ada temennya, matanya gak bisa liat, kalau hujan bocor semua, ngungsi ke rumah saya,” jelas Masroh tetangga rumah Nenek Roudah.

Meski hidup sebatangkara dan serba kekurangan, katanya nenek Roudah berusaha tegar dan tetap menjalani kehidupan dengan tidak meninggalkan pengajian ruitin di masjid desa, selama ini menjadi pencerah hatinya.

Nenek roudah berharap, pemerintah Kabupaten Cirebon, memberikan bantuan berupa perbaikan rumah dan raskin yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Nenek Roudah, merupakan contoh potret kemiskinan di tengah gembar-gembor pembangunan di Kabupaten Cirebon. (Tim Cirebontrust)

Info: cirebontrust.com

Kuningan - Bencana alam lonsgor di Desa Pamulihan, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan masih menyisakan sedih yang mendalam awlueuh warga yang rumahnya ambruk akibat peristiwa yang datang secara mendadak itu.

Suasana sedih terlihat peada salah satu keluarga pemilik rumah ambruk akibat longsor, mereka menangis histeris. Mereka baru mengetahui kalau rumahnya ambruk akibat bencana, setelah pulang kampung halaman.

Menurut keterangan sejumlah warga, mereka menangis karena merantau dan tidak mengetahui jika rumahnya terkena bencana.

Selain membuat sedih karena rumahnya ambruk, ternyata rumahnya itu baru saja selesai dibangun dengan dana yang cukup besar. Seperti rumah milik, Warno yang diketahui bekerja perantau.

“Saya baru mengetahui, setelah saudara saya memberikan kabar, kalau rumah saya ambruk terkena bencana,” kata warno korban rumah ambruk yang terlihat sedih.
Hal senada disampaikan oleh, Ny Yanti orang tua dari Sunarya yang juga rumahnya ambruk dan tak bisa ditempai.

“Kami tidak bisa membangun lagi, kondisi rumah rusak parah. Harus dibangun dari awal lagi, sementara kami belum memiliki uang,” katanya.

Seperti berita sebelumnya, akibat diguyur hujan sehari semalam tujuh rumah warga rusak parah dan satu di antaranya ambruk. (Ipay)

Info: cirebontrust.com
SATU ATAP: Satlantas Polres Majalengka melaksanakan pelayanan keliling, di sekitar alun-alun kabupaten Majalengka. Foto: Anwar Baehaqi/ Radar Majalengka
Majalengka - Memerihkan hari ulang tahun polisi lalu lintas ke-61, Polres Majalengka melaksanakan pelayanan keliling di sekitar alun-alun Kabupaten Majalengka, Minggu (18/9).

Kapolres AKBP Mada Roostanto SE MH melalui Kasat lantas AKP Iim Abdurochim SH mengungkapkan kegiatan yang dilaksanakannya yaitu pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), sosialiasi tata tertib berlalu lintas, dan memperpajang surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang dilakukan petugas Samsat Kabupaten Majalengka.

“Alhamdulillah respons masyarakat mengikuti kegiatan tersebut sangat baik. Bahkan data pembuat SIM dan memperpanjang STNK dalam pelayanan keliling ini mencapai kurang lebih 200 orang,” ungkapnya.

Selain memerihkan HUT Polantas ke-61, kegiatan itu juga untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aturan lalu lintas dan memberikan kemudahan dalam pelayanan lalu lintas.

“Insya Allah kedepan dalam upaya memberikan kemudahan  kepada masyarakat, pelayanan keliling baik memperpanjang SIM, pembuatan SIM dan pelayanan STNK akan terus dilaksanakan setiap bulan,” jelasnya.

Dalam upaya meminimalisasi kecelakaan berlalu lintas, dirinya menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa berhati-hati dan waspada saat berkendara. Terutama memakai helm bagi pengendara roda dua, memakai sabuk pengaman bagi pengendara roda empat, melengkapi atribut kendaraan yang SNI dan membawa surat-surat kendaraan.
“Jadi jika tak ingin diberhentikan petugas, demi kenyaman saat berkendara saya meminta masyarakat senantiasa mentaati aturan berlalu lintas,” katanya.

Salah seorang warga, Wandi (25) asal Kelurahan Majalengka Wetan berharap pelayanan keliling bukan hanya dilaksanakan di lingkungan masyarakat melaikan di universitas dan SMA. “Apalagi mahasiswa masih banyak yang belum memiliki SIM, dan saya berharap pelayanan keliling kepolisian bisa juga dilaksanakan di lingkungan sekolah dan universitas,” harapnya. (bae)

Info: radarcirebon.com
TIGA PILAR: Kuwu Wawan SIP (tengah) bersama anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Cipancuh memperagakan Seni Tari Pencak Silat SBL pada sebuah momen yang diadakan Pemcam Haurgeulis. Foto: Kholil Ibrahim/ Radar Indramayu
Kekompakan Kuwu, Bhabinkamtibmas dan Babinsa di Kecamatan Haurgeulis tak melulu di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat. Di Desa Cipancuh, sinergitas tiga pilar ini kompak menghidupkan kembali seni tari pencak silat Satria Budi Laksana (SBL).

Laporan: Kholil Ibrahim

Haurgeulis - Zaman penjajahan dulu, anak-anak muda di Desa Cipancuh wajib mengusai ilmu bela diri. Sebagai bekal untuk merantau atau pertahanan diri jika diserang lawan. Ilmu beladiri diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur di desa tertua yang berdiri tahun 1913 tersebut.

Pada sekitar tahun 1950-an, seni bela diri pencak silat Jurus Cimande di Desa Cipancuh berada  di puncak kejayaannya. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, generasi muda Desa Cipancuh mulai meninggalkan tradisi bela diri ini. Hanya sebagian kecil yang masih mempertahankannya, itupun dilakoni oleh para sesepuh yang masih hidup.

Sempat mati suri berpuluh tahun lamanya, kini Pemerintah Desa Cipancuh di bawah kepemimpinan Kuwu Wawan SIP berkeras mengaktifkan kembali tradisi lama itu. Kuwu yang kerap disebut Ki Ageng Cipancuh inipun lantas mendirikan sebuah peguron yang diberi nama Padepokan Satria Budi Laksana (SBL) di kediamannya di Blok Sumur Bandung tepat pada 20 Agustus 2016 kemarin.

“Titik fokus pelestarian budayanya bukan pada kesaktian adu kekuatan, tapi seninya. Karenanya disebut Seni Tari Pencak Silat Satria Budi Laksana. Para sesepuh kita libatkan kembali menjadi pelatih,” terang Kuwu Wawan SIP kepada Radar, Senin  (19/9).

Sesuai namanya, gerakan dari Seni Tari Pencak Silat SBL ini memadukan antara seni tari, olahraga serta paduan kekompakan dalam memperagakan jurus-jurus pencak silat. Peragaannya terasa semarak lantaran diiringi musik gamelan khas Sunda.

“Banyak nilai positif yang terkandung di dalamnya. Selain olahraga untuk kesehatan, seni tari pencak silat SBL juga menekankan etika, sopan santun dan penghormatan kepada orang tua. Karena itu sangat cocok untuk generasi muda dalam menangkal kenakalan remaja dan sebagaianya,” papar Kuwu Wawan.

Di padepokannya, latihan rutin digelar saban Sabtu malam Minggu dan Selasa Malam Rabu. Awalnya hanya satu dua orang yang ikut serta. Setelah melibatkan anggota Bhabinkamtibmas dari Polsek Haurgeulis, Aiptu Aming dan Kopka Agus Susanto dari Babinsa Koramil Haurgeulis, jumlah pesertanya membludak dan kini mencapai 114 orang. Mayoritas adalah anak-anak muda.

“Sinergitas tiga pilar di Desa Cipancuh diberdayakan dengan turut menghidupkan kembali seni tari pencak silat sebagai budaya lokal yang harus terus dilestarikan. Alhamdulillah, pak Camat, Kapolsek dan Danramil sangat mendukung upaya kami,” terang alumnus Unisma Bekasi ini.

Dalam setiap momen di tingkat Kecamatan Haurgeulis, anggota padepokan SBL selalu diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Seperti pada saat malam puncak HUT RI serta audisi Napak Jagad Pasundan yang diadakan oleh salah satu perusahaan nasional.
Camat Haurgeulis, Drs Asep Kusdianti MSi menyambut baik ikhtiar yang dilakukan Pemdes Cipancuh. Selama ini kepemimpinan Kuwu Wawan telah terbukti membangun desa sekaligus menggalakkan pelestarian budaya daerah. (kho)

Info: radarcirebon.com
CIREMAI: Meski sempat diprotes warga, kini Kementerian ESDM RI berencana akan membangun pertambangan energi panas bumi (Geothermal) di Gunung Ciremai, Kuningan. Foto: Dok/ Radar Kuningan
Kuningan - Di tengah keresahan masyarakat pasca mencuatnya isu pelelangan kembali wilayah kerja pertambangan (WKP) Ciremai untuk geothermal, seorang pakar lingkungan Dr H Yoyo Sunaryo MP angkat bicara. Ia berpendapat, dengan adanya geothermal nanti justru akan lebih menguntungkan Kuningan ketimbang merugikan.

Sejauh ini dirinya mengamati, masyarakat Kuningan cenderung sangat represif terhadap informasi yang belum jelas. Apalagi hal itu bersifat provokatif dan pada akhirnya warga Kuningan sendiri yang rugi. Dicontohkan, kasus bendung Kuningan di Cibeureum, masyarakat sempat mengusir tim peneliti dan bahkan merusak peralatan theodolit dan lainnnya.

“Karena diisukan air bendung tersebut akan digunakan untuk masyarakat di Panaggapan Brebes. Sekarang masyarakat sadar, bendung tersebut sedang proses pembuatan,” tutur mantan kepala Dinas Lingkungan Hidup itu, Senin (19/9).

Kasus geothermal di waktu lalu, lanjutnya, masyarakat bereaksi keras karena diisukan akan menjual Gunung Ciremai. Kemudian, Chevron akan mengeruk harta orang Indonesia seperti yang diperbuat Freport di bumi cendrawasih.

Yoyo menegaskan, reformasi telah berlangsung hampir 18 tahun lalu, semestinya masyarakat sudah mulai menyadari kepentingan daerah dan nasional. Sebab, di masa yang akan datang tiga komponen hidup penting akan mangalami krisis yaitu BBM fosil, air baku dan bahan pangan.

“Maka dalam kesempatan ini, saya sebagai orang yang membidani lahirnya Kuningan sebagai Kabupaten Konservasi, akan memberikan pemahaman yang benar tentang hal itu. Kabupaten konservasi artinya menempatkan kawasan (areal tanah yang luas) sebagai mana fungsinya,” terang Yoyo.

Misalnya di kawasan Gunung Ciremai yang mencakup areal seluas 15.500 hektare, kata dia, adalah kawasan lindung. Maka selama itu tidak boleh ada usaha produktif yang dapat merusak fungsi kawasan tersebut.

“Ditambah kawasan sekitar kaki Gunung Ciremai yang luasnya tidak kurang dari 65.000 hektare, adalah kawasan menyangga di mana pemanfaatan merupakan kawasan terbatas. Selain kawasan itu, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat, dengan catatan harus tetap meminimalisir kerusakan dan dampak,” beber dia.

Menurut Yoyo, potensi kekayaan Ciremai begitu besar. Ternyata di kawasan gunung ini tersimpan kekuatan listrik dalam bentuk panas bumi sebesar 250 MGW atau empat kali lipat listrik yang dihasilkan dari bendung Sutami di Purwakarta. Pertama kali survei tempatnya di Pajambon, Setianegara dan satunya di daerah Mandirancan.

Kekayaan yang sangat besar, imbuhnya, jika dikelola akan menyejahterakan masyarakat Kuningan. Pemda dan masyarakat Kuningan, akan memperoleh royalti dari setiap watt yang dijual oleh PLN. Dikatakan, industri ini sangat ramah lingkungan, seperti yang dapat dilihat di Kamojang Garut. Lahan untuk eksploitasi tidak begitu luas. Selain pembuatan sumur bor ada instalasi pengolah panas bumi menjadi tenaga listrik, tidak ada limbah domestik maupun limbah kimia.

“Jika kita sepakat, bahwa sumber kekayaan ini akan dieksploitasi, ada syarat yang cukup berat, artinya masyarakat harus ikut mendukung. Karena untuk membangun geothermal membutuhkan biaya besar, membuat lubang ke perut bumi sampai ke proses menjadi energi listrik dan jaringan menyalurnya. Umur keekonomisan geothermal akan panjang jika kawasan hutan di kawasan Gunung Ciremai dan kawasan penyangganya bisa dilestarikan. Sekurang-kurangnya dibutuhkan 45.000 hektare hutan harus tetap lestari (bukan menjual Gunung Ciremai) dan tetap sebagai fungsi hutan,” paparnya.

Hutan lindung, tambah Yoyo, akan meresapkan air ke perut bumi melalui akar yang terbentuk dan menjulur ke perut bumi. Panas bumi dibentuk oleh panas di perut bumi, dan akan memanaskan  air yang diresapkan oleh tanaman kemudian menghasilkan uap panas. Uap panas inilah yang akan digunakan untuk mengerakkan turbin pembangkit listrik dan menghasilkan energi listrik yang tidak terhingga.

“Jadi, apabila hutan negara (TNGC) dan hutan masyarakat di atasnya rusak dan air yang diresapkan semakin berkurang, maka uap air juga berkurang dan tidak lagi mampu menggerakan tumbun listrik dan habislah enegri listrik tersebut,” ungkapnya.

Pada awal proses, ujar Yoyo, memang dibutuhkan air cukup banyak untuk pembuatan instalasi dan air panas akan keluar ke pemukaan. Namun setelah stabil tidak akan ada rembesan keluar. Dan apa yang ada sekarang tidak akan terpengaruh, terhadap kehidupan masyarakat misalnya air panas dan sebagainya.

“Mungkin sebagai salah satu hak kita warga Kuningan, adalah ikut memantau bentuk kerja sama pengelolaan ini. Sekurang-kurangnya, bisa kita ingatkan jika sistem bagi hasilnya kurang menguntungkan warga Kuningan,” kata pria yang tinggal di Desa Cikaso Kecamatan Kramatmulya itu. (ded)

Info: radarcirebon.com
Sejumlah warga saat menyeberangi Sungai Kalijaga usai berkunjung ke Kampung Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, 
Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, belum lama ini.*Alif/KC
Walau tak Ada Televisi, Itu Bukan Tradisional

Benda Kerep - merupakan salah satu kawasan yang berada di ujung selatan Kota Cirebon. Daerahnya masih rimbun, pohon-pohon besar tampak menjulang kokoh. Masyarakatnya ramah, dan memegang teguh amanat leluhur dan ajaran Islam. Jangan heran jika kita berkunjung ke Benda Kerep, tidak akan menemukan televisi di dalam rumah. Kemudian, di sana juga tidak mengenakan pengeras suara untuk kegiatan apa pun termasuk pengajian ataupun azan salat.

“Kalau tidak ada TV di Benda, itu bukan tradisi. Kemudian, di sini tidak mengenakan pengeras suara, itu juga bukan tradisi. Karena sejak dulunya, juga tidak ada. Sesuatu yang tidak ada kemudian dibuat ada, itu baru disebut tradisi. Kalau sesuatu yang awalnya tidak ada, lalu tetap tidak ada ya bukan tradisi. Yang tradisi itu yang awalnya tidak ada kemudian ada. Jadi di Benda itu bukan orang tradisional, kalau dipandang tradisional itu salah. Tidak ada tradisi di Benda,” tutur salah seorang tokoh masyarakat Benda Kerep, Kiai Muh. Ibnu Ma’isy kepada KC, Minggu (18/9/2016).

Kehidupan masyarakat Benda Kerep sangat kental dengan nuansa islami. Kini jumlah masyarakat di sana mencapai 2.000 jiwa. Bicara tentang Benda Kerep tentu tidak lepas dari kiprah Kiai Soleh.

Kiai sepuh, demikian sebutan Mbah Soleh tempo dulu. Beliau lahir di Sindanglaut abad 17. Pada Rabu, (14/9/2016) atau 12 Dzulhijah 1437 H merupakan Haul ke-130 Benda Kerep. Haul itu diambil dari hari wafatnya Mbah Soleh pada tanggal 12 Dzulhijah 1307 H.

Kiai Ibnu Ma’isy yang merupakan cicit Mbah Soleh menceritakan, dulu Benda Kerep merupakan alas atau hutan liar yang dikenal angker. Namanya Hutan Cimeweuh yang berarti hutang hilang. Saking ankernya, siapa pun orang yang masuk ke Cimeweuh akan hilang. Karena itu, tidak ada yang berani masuk alas Cimeweuh yang luasnya mencapai 30 hektare. Hanya hewan buas yang bertahan hidup di sana.

Jika dilihat dari letak geografis, Cimeweuh merupakan sebuah lembah legok yang dikelilingi gunung layaknya Kota Makkah. Pada awal abad 18, Mbah Soleh mendapat tugas dari gurunya Kiai Anwaruddin Kriyan, yang juga kakak iparnya untuk babat alas. Atas perintah itu, Mbak Soleh pun melakuakn babat alas dan mulai tinggal di hutan itu. Sebelumya, Mbah Soleh sempat singgah di Gegunung Sumber karena menunggu proses serah terima wakaf dengan pihak keraton.

“Cimeweuh terkenal angker karena banyak mitos yang berkembang di masyarakat. Namun, Kanjeng Sunan pernah menyatakan senang dengan kawasan hutan tersebut. Kemudian, tidak sedikit yang ingin memiliki kawasan itu. Namun, di sisi lain, Cimeweuh terkenal angker,” papar Kiai Maiz yang merupakan putra KH Hasan, sesepuh Benda Kerep.

Kemudian, atas permintaan Kiai Anwaruddin Krian, Mbah Soleh pun melakukan babad alas. Sebelumnya, Kiai Soleh melakukan riadoh selama sembilan tahun. Konon, tiga tahun untuk wilayah yang akan dihuninya, tiga tahun bagi zuriahnya (keturunan) dan tiga tahun bagi umat Islam.
Babad alas dimulai bersama sejumlah para wali. Mbah Soleh mengendalikan semua kegiatannya dari hutan, membangun komunikasi, menjalin silaturahmi, membangun kebersamaan dengan para ulama di seluruh Jawa. Berkat ikhtiarnya itu, Mbah Soleh beserta para ulama berhasil mengakhiri masa-masa tiarap dari tekanan Belanda.

Maka dengan serentak salat jamaah di setiap masjid dapat kembali dilakukan di seluruh Jawa setelah sebelumnya dilarang pemerintah Belanda. Kemudian, Cimeweuh diganti Benda Kerep artinya kaya potensi dan subur.

Haul ke-130 Benda Kerep pada Rabu (14/9/2016) dilaksanakan tiga hari diisi dengan tahlil. Ribuan orang dari berbagai daerah berkunjung ke Benda Kerep mengikuti kegiatan tersebut. Kini, Benda Kerep menjadi kawasan dengan penduduk yang cukup banyak. Mereka yang tinggal di Benda merupakan generasi ketiga dan keempat dari Mbah Soleh, Kiai Anwaruddin Krian dan para kiai lainnya yang ikut melakukan babat alas.***

Info: kabar-cirebon.com
SONGSONG INVESTOR: Kepala BPPT Drs H Lili Suherli (kiri) sudah menyiapkan strategi untuk mempermudah investor mengembangkan usahanya di Kabupaten Kuningan. Foto: Agus Panther/Radar Kuningan
Kuningan - Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Kuningan berjanji akan mempermudah para investor yang akan menanamkan modalnya di Kabupaten Kuningan. Kemudahan izin yang diberikan ini juga sesuai dengan instruksi dari Presiden RI yang meminta daerah untuk membuka diri terhadap para pemilik modal. Begitu juga dengan proses perizinan yang diajukan investor yang menanamkan modalnya di Kota Kuda, BPPT akan menuntaskannya dalam waktu singkat.

Penegasan ini disampaikan Kepala BPPT Drs H Lili Suherli MSi. Menurut Lili, peluang Kabupaten Kuningan didatangi investor sangat besar. Ini tidak terlepas dari kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati serta akses jalan tol yang makin mempermudah jangkauan dari ibukota negara dan juga provinsi. “Pengembangan investasi dari luar daerah akan membuat Kabupaten Kuningan dilirik oleh investor atau pemilik modal. Karena itu, kami menyederhakan regulasi mulai dari perizinan sampai hal lainnya. Prinsip kami, izin beres, bisnis sukses. Kami membuka diri demi menggaet para pemilik modal berinvestasi di Kabupaten Kuningan,” tegas Lili kepada Radar, akhir pekan kemarin.

Beberapa sektor yang berpotensial kedatangan investor yakni pariwisata terutama pembangunan hotel. Melalui perizinan satu pintu dan maksimal, kata Lili, maka pengusaha akan lebih mudah ketika menanamkan modalnya di Kabupaten Kuningan. “Kuningan kan selama ini dikenal dari sektor pariwisata dan pertaniannya. Sekarang ini sudah banyak hotel baru yang berdiri. Ini sangat menguntungkan bagi kemajuan pariwisata di Kabupaten Kuningan. Bisa dilihat di kawasan wisata sudah banyak hotel baru yang berdiri. Itu menunjukkan kalau potensi wisata sangat besar,” sebut mantan Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (DTRCK) tersebut.

Oleh sebab itu, sambung dia, siapapun yang ingin berinvestasi di Kabupaten Kuningan, akan mendapatkan kemudahan. Mulai dari mudahnya proses perizinan, keamanan dalam berinvestasi serta kemudahan lainnya. “Sudah tidak zamannya lagi perizinan sulit. Bila perlu kami akan menggunakan sistem jemput bola jika ada investor yang serius menanamkan modalnya. Kalau kita tidak terbuka terhadap para investor, berarti membuang peluang daerah mendapatkan keuntungan. BPPT sudah banyak melakukan regulasi untuk mempermudah perizinan,” papar Lili didampingi Sekretaris BPPT Budi Alimudin di ruang kerjanya.

Lili mengimbau kepada pengusaha lokal untuk ikut menanamkan modalnya dan meningkatkan kemampuannya supaya produknya bisa bersaing dengan dari daerah lain. “Sekali lagi, untuk masalah perizinan, jangan khawatir. Kami akan memberikan kemudahan kepada setiap investor yang datang dan serius menanamkan modalnya di Kabupaten Kuningan. Semakin banyak investor yang datang, tentu akan berdampak terhadap penyerapan lapangan kerja. Ekonomi masyarakat juga akan terkerek naik,” pungkas dia. (ags)

Info: radarcirebon.com
RUSAK PARAH: Jalan penghubung antara Panguragan - Klangenan tepatnya di Desa Panguragan Wetan, Kec Panguragan, Kab Cirebon. Foto: Cecep/Radar Cirebon
Cirebon - Kerusakan di  jalan  penghubung antara Panguragan - Klangenan tepatnya di Desa Panguragan Wetan, Kec Panguragan, Kab Cirebon, semakin parah saja. Pantauan radarcirebon.com Minggu  (18/9),  kendaraan  roda dua dan empat tampak kesulitan melewati jalan tersebut.

Selain rusak, di jalan tersebut juga  tidak ada lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) sehingga banyak pengemudi kendaraan roda dua yang jatuh karena tidak bisa melihat kondisi jalan yang berlubang.

Jalan yang rusak dan gelap, membuat pelaku kejahatan sering berada di jalan tersebut. Mereka mengincar para pengemudi yang berjalan pelan karena menghindari lubang dan suasananya yang sepi. Sehingga warga tidak berani melintasi jalan ini kalau malam hari.

Kuwu Pangguragan Wetan, H Farida  yang akrab disapa  Kuwu Glundung mengaku prihatin dengan kondisi jalan penghubung antara Panguragan - Klangenan yang selalu  diajukan dalam Musrenbang namun belum juga direalisasi. “Mudah mudahan tahun depan 2017 perbaikan jalan Panguragan - Kelangenan terealisasikan,” katanya.

Jalan tersebut  mengalami kerusakan,  selain  karena musim hujan,  juga sering dilewati kendaraan besar pengangkut barang rongsok.(cecep)

Info: radarcirebon.com
KH Yahya Zainal Ma’arif atau Buya Yahya
Cirebon - Setelah menjalani perawatan oleh rumah sakit di Singapura, Pengasuh Ponpes Al-Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainal Ma’arif atau Buya Yahya kondisinya sudah membaik. Bahkan, Sabtu dan Minggu lalu (17-18/9) sudah bisa mengisi ceramah, meski baru lewat video streaming dari Singapura.

Membaiknya kondisi Buya Yahya menjadi kabar kebahagiaan bagi santri Al-Bahjah. Buya Yahya sempat mengalami luka yang serius setelah mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Jalan Tol Cipali sepulangnya dari safari dakwah.
“Beliau sudah bisa mengisi ceramah lewat streaming, pertama kali beliau ceramah Sabtu lalu dan Minggu pagi. Bisa dilihat di pesantren Al-Bahjah,” kata Mahmud, petugas keamanan Al-Bahjah.

Mahmud, memperkirakan meski sudah bisa memberikan ceramah, namun kondisi Buya Yahya masih terus membutuhkan pemulihan. Karena itu, kemungkinan masih akan berada di Singapura untuk beberapa bulan sampai kondisinya betul-betul pulih.

“Jadi kabarnya masih dua bulan lagi beliau harus istirahat dan memulihkan kesehatan di Singapura, baru pulang ke Cirebon,” katanya. (cecep)

Info: radarcirebon.com
KEKERINGAN: Akibat sulitnya mendapat air, sawah di Desa Matangaji, Kecamatan Sumber, mengalami kekeringan dan gagal panen. Foto: Ilmi Yanfaunna/Radar Cirebon
Sumber - Sumber mata air di Desa Matangaji, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon  banyak terserap PDAM Kota Cirebon. Akibatnya,  hasil panen di wilayah Desa Matangaji tidak maksimal. Masa tanam pun hanya mampu satu sampai dua kali selama setahun. Idealnya, masa tanam selama setahun bisa tiga kali panen.

Salah satu Warga Desa Matangaji, Dadang (50) mengatakan, produktifitas lahan pertanian di desanya mengalami perubahan. Sebab, air dari mata air Paniis, Kabupaten Kuningan disedot untuk keperluan PDAM Kota Cirebon dan meningkatkan pembangunan serta pertumbuhan penduduk.  “Sebelumnya petani desa dapat melakukan masa tanam sebanyak tiga kali,” kata Dadang.

Dia mengaku, para petani desa tidak bisa berbuat banyak selain berharap adanya solusi yang diberikan oleh pemerintah daerah terhadap kondisi ini. Sebab, untuk saat ini petani  hanya dapat berharap pada musim hujan saat hendak bercocok tanam. “Sekarang ini sawah di desa kami menjadi tadah hujan. Dahulu, di sini (Matangaji, red) tidak pernah kekeringan meskipun airnya ada yang disedot untuk PDAM. Sekarang, bisa dilihat sendiri kondisi sawah kalau tidak ada hujan,” kata Dadang yang juga tokoh masyakat setempat.

Sementara itu, Kuwu Matangaji Sudarta mengungkapkan pihaknya sudah berupaya maksimal guna mencukupi kebutuhan air para petani. Namun, Sudarta membenarkan adanya kesulitan lain yang ditemui oleh pemerintah desa. “Akhirnya, kita hanya berharap pada turunnya hujan saja untuk mengairi lahan pertanian. Kalau tidak hujan, kondisinya seperti sekarang ini, kering,” ujarnya singkat, belum lama ini.

Terpisah, Bupati Cirebon Drs H Sunjaya Purwadisastra  MM MSi menyatakan, pihaknya akan mengupayakan ada kerjasama antar pemerintah daerah. Alasannya, kewenangan untuk penggunaan air di Paniis bukan ada di Pemerintah Kabupaten Cirebon. Tapi, oleh PDAM Kota Cirebon. “Kita akan coba semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat di desa matangani sehingga lahan produktif mereka dalam bercocok tanah tidak mengalami kekeringan lagi,” tandasnya. (sam)

Info: radarcirebon.com

Majalengka - Sebanyak belasan botol minuman keras (miras) berbagai merek dan jenis berhasil diamankan petugas Polsek Ligung Polres Majalengka, dari dua warung di wilayah Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka dalam Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat), yang dilakukan petugas Kepolisian Polsek Ligung.

Menurut Kapolres Majalengka, AKBP Mada Roostanto, SE, MH, melalui Kapolsek Ligung, AKP Toto Sumarto mengungkapkan, Operasi Pekat ini dilakukan untuk menciptakan suasana aman dan kondusif di wilayah binaanya tersebut.

“Hasil operasi, petugas berhasil mengamankan sebanyak 16 botol minuman keras berbagai jenis. Diantaranya, 10 botol miras kami amankan dari warung milik Endang (55) warga Desa Buntu dan dari warung milik Kusnadi (40) warga Desa Kertasari Kecamatan Ligung, berhasil kami amankan 6 botol miras,” ungkap AKP Toto, Minggu (18/09).

Dijelaskan AKP Toto, operasi di sejumlah titik rawan miras itu berbekal dari informasi masyarakat sekitar, yang merasa resah dengan adanya peredaran minuman keras.

“Kita akan terus melakukan operasi demi terciptanya kondusifitas,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memberikan sanksi bagi pemilik warung berupa tindak pidana ringan. (Abduh)


Cirebon - Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat memang baru dibuka di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat malam lalu. Namun, beberapa cabang olahraga telah memulai terlebih dahulu untuk berkompetisi.

Hasilnya, Jawa Barat masih mendominasi perolehan medali dengan 34 emas, 19 perak dan 19 perunggu. Data dari Pengurus Besar (PB) PON XIX Jawa Barat, hingga pagi ini Minggu (18/09) menjelaskan, di bawah Jawa Barat, ada DKI Jakarta dengan perolehan 19 emas 15 perak dan 22 perunggu.

Kemudian disusul dengan Jawa Timur yang memperoleh 9 emas, lalu Sulawesi Selatan dan Riau berada di bawahnya dengan raihan 3 emas, walau memiliki jumlah perak dan perunggu yang berbeda.

Berikut klasemen 10 besar perolehan medali sementara PON XIX Jawa Barat berdasarkan kontingen:
1. Jawa Barat dengan 34 emas, 19 perak dan 19 perunggu (Total: 72 medali)
2. DKI Jakarta dengan 19 emas, 15 perak dan 22 perunggu (Total: 56 medali)
3. Jawa Timur dengan 9 emas 18 perak dan 16 perunggu (Total: 43 medali)
4. Sulawesi Selatan dengan 3 emas, 5 perak dan 0 perunggu (Total: 8 medali)
5. Riau dengan 3 emas, 4 perak dan 3 perunggu (Total: 10 medali)
6. Maluku dengan 3 emas, 0 perak dan 2 perunggu (Total: 5 medali)
7. Bali dengan 2 emas, 4 perak dan 4 perunggu (Total: 10 medali)
8. Banten dengan 2 emas, 0 perak dan 2 perunggu (Total: 4 medali)
9. Kalimantan Utara dengan 2 emas, 0 perak dan 0 perunggu (Total: 2 medali)
10. Papua dengan 1 emas, 4 perak, dan 3 perunggu (Total: 8 medali). (Wilda)


Babakan - Pedagang Pasar Babakan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon merasa ditipu‎ oleh oknum pengurus pasar tersebut. Pasalnya, kios yang ia beli seharga Rp 22 juta dari tahun 2015, hingga saat ini belum diterimanya. Pedagang yang bernama Ayani warga Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon itu mengancam akan melaporkan oknum tersebut ke pihak kepolisian, Minggu (18/09).

‎”Awalnya saya tidak yakin, namun karena ada teman yang ikut meyakinkan akhirnya saya nekat dan langsung memberi tanda jadi sebesar Rp. 17,5 juta, untuk membeli sebuah kios. Padahal menurut aturan, kios tersebut digratiskan oleh Pemda bagi pedagang lama,” ungkap Aryani.

Namun, meski sudah memberikan uang tanda jadi, kios yang dijanjikan itu tak kunjung diberikan oleh oknum yang mengaku mandor pasar tersebut. Hingga akhirnya, pada 28 Agustus 2015 ada seseorang yang mengaku bisa menghubungkan dirinya dengan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) datang kepadanya.

Bukan hanya itu, oknum tersebut juga mengaku orang suruhan perantara mandor Pasar Babakan untuk meminta uang kembali kepadanya, demi memuluskan dan mempercepat kepemilikan kios tersebut. Kontan, karena percaya dengan klaim oknum tersebut, Aryani akhirnya memberikan uang kembali sejumlah Rp 5 juta‎, hingga total Aryani memberikan uang sebesar Rp 22,5 juta.

“Setelah kejadian tersebut, selama saya menagih kios itu, janji perantara dan mandor pasar selalu meleset. Akhirnya saya putuskan urung membeli kios, dan ingin uang saya dikembalikan. Tapi hingga saat ini uang saya belum dikembalikan juga. Jika masih seperti itu, saya akan kasuskan, karena ini jelas penipuan. Saya ada buktinya sebuah kwitansi,” tegasnya. (Riky Sonia)

CIREBON Islamic School (CIS) 
mendapat kehormatan diundang Kemendikbud untuk dijadikan rujukan 
dalam penerapan full day school di Indonesia.* Ist/KC
Cirebon - Sekolah Dasar Cirebon Islamic School (SD CIS) mendapat kehormatan diundang langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy pada Rabu (14/9/2016) lalu. Pertemuan yang diadakan di gedung Kemendikbud Jakarta tersebut membahas persiapan pemberlakuan sekolah lima hari, Senin-Jumat atau full day school (FDS).

Kepala SD CIS, Lukmanul Hakim menghadiri langsung pertemuan tersebut. Selain CIS, ada sembilan sekolah FDS lain di Indonesia yang diminta pendapatnya tentang rencana sekolah lima hari tersebut.

“Sekolah yang diundang itu dianggap Kemendikbud sudah baik dalam menerapkan full day school. Kami diminta untuk memberi masukan soal rencana penerapan sekolah lima hari di Indonesia,” kata Lukmanul Hakim, Kamis (15/9/2016).

Tentu pihaknya bangga sekolahnya dijadikan rujukan oleh Kemendikbud untuk persiapan penerapan sekolah lima hari. Sebab, menurutnya, di Jawa Barat sendiri hanya ada tiga sekolah yang diundang dan CIS termasuk salah satu di antaranya.

Menurutnya, dalam pertemuan tersebut ia diminta menjelaskan sistem pendidikan yang diterapkan CIS. Sebab, nantinya sistem tersebut akan dijadikan rujukan tentang penerapan full day school di Indonesia.

“Kami bangga karena bisa mewakili Cirebon untuk memberikan pendapat tentang sekolah lima hari kepada Kemendikbud. Semoga apa yang CIS sampaikan kepada Mendikbud bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak,” pungkasnya. (C-18)

Info: Kabar-Cirebon.Com
Cirebon - Sesuai Janji, Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon akan memberikan kesan mendalam bagi atlet PON dengan mengajaknya keliling kota.

Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya promosi kebudayaan Kota Cirebon, yang diharapkan bisa diceritakan kepada banyak orang di daerahnya masing-masing. Rencananya, Disporbudpar akan membawa atlet PON ke dalam sensasi city tour, dengan berkeliling dan mengunjungi situs pariwisata yang ada di Kota Wali.

“Kami juga akan mengajak para atlet merasakan kuliner khas Cirebon,” ujar Kepala Bidang Keolahragaan, Disporbudpar Kota Cirebon, Indriawati.

Beberapa tempat yang akan diperkenalkan adalah keraton yang ada di Kota Cirebon, Masjid Sang Cipta Rasa, dan Gua Sunyaragi. Indriawati menjelaskan, meski saat kedatangan para atlet juga dilakukan welcome party di Gua Sunyaragi pada 16 September mendatang, namun, pihaknya akan tetap membawa para atlet mengunjungi situs berusia ratusan tahun tersebut.

“Kalau welcome party-kan malam, jadi kurang begitu maksimal view keindahannya, jadi kita ajak lagi saat siang hari,” kata Indriawati.

City tour sendiri rencananya akan dilaksanakan dua tahap. Pertama, atlet selam kolam akan merasakan sensasi keliling kota pada 19 September. Sedangkan atlet bulu tangkis pada 28 September.

“Pelaksanaannya setelah pertandingan, jadi enggak mengganggu jadwal persiapan para atlet,” pungkas Indriawati. (Wilda)

Info: CirebonTrust.Com